1st Episode,,
Kirim kartu
ucapan permohonan maaf via pos di sebuah era BBM-an. Sempet diketawain yang lain *_* Mungkin dalam pikiran mereka, "galau sih galau nit, tapi ga
usah segitu kunonya kali". Kartu ucapan ini saya buat sendiri, boleh ngambil gambar dari google siy :p tapi di edit2 dikit lah..
Buat saya, ini satu hal klasik yang saya suka. Era bertukar kartu pos mungkin sudah lama berlalu, tapi karena dengan via pos, secara fisik kartu itu ada, maka tetap tidak tergantikan dengan yang maya.
Buat saya, ini satu hal klasik yang saya suka. Era bertukar kartu pos mungkin sudah lama berlalu, tapi karena dengan via pos, secara fisik kartu itu ada, maka tetap tidak tergantikan dengan yang maya.
2nd Episode,,
Nge add mba itu.. FB juga YM. Berharap beliau bisa jadi agen FBI saya. *efek samping kebanyakan ngayal :p becanda boz... Sebenarnya saya butuh seseorang yang hampir setiap hari bertemu dengannya. Bukan untuk apa2, sekedar mau menanyakan kabarnya saja. Baik2 sajakah? Sehat2 sajakah?
3rd Episode,,
Main kerumahnya sekedar mau ngasih buah tangan. Satu hari, tiga kali ketuk pintu pagar rumahnya.
Pertama, siang hari, tapi pagar rumahnya di gembok dari luar. Sudah pasti ga ada orang di dalam. Saya pikir, mungkin sedang pergi ke pasar atau ke rumah saudaranya. Kelihatannya semua penghuni rumah sedang pergi.
Tapi karena merasa perlu menemui anak si penghuni rumah, saya mampir dulu ke mal terdekat, menghabiskan beberapa jam sampai sore. Lalu kedua kalinya, balik lagi ke rumah itu. Gemboknya sudah ada di dalam, berarti salah satu penghuni rumah sudah pulang. Saya ketuk pintu lagi dan melemparkan salam, tetap tidak ada yang menjawab. Karena sudah berkali2 tidak ada satupun yang keluar dari rumahnya, maka saya putuskan untuk pulang.
Sampai rumah, masih tidak tenang juga. Sehabis magrib, saya pergi lagi ke rumah itu. Keluarga saya sampai heran kenapa saya pergi lagi padahal baru saja pulang dan kondisinya juga sudah malam, terpaksalah berkelit sedikit bahwa ada sesuatu yang harus saya urus. Tapi yang ketiga kalinya, pintu pagar itu tetap tidak terbuka juga. Kali itu saya yakin, ada orang di dalam rumah itu karena lampu di terasnya menyala. Entah tidak mendengar, entah segan membuka pintu. Terpaksalah malam itu saya pulang ke rumah dengan perasaan yang kacau sekali. Mungkin karena dalam hati bertanya-tanya, "apakah dia benar2 ingin menghilang dari hidup saya?" Lalu segala bentuk komunikasi terputus dan didatangi pun tak mau menghadap.
Barangkali, itu satu hal konyol yang pernah saya lakukan. Berkunjung ke rumah teman sampai tiga kali, siang sore dan malam. Mengetuk pintu rumah orang berkali-kali, dan tidak juga putus asa. Merasa harus melakukannya lagi esok harinya atau lusa atau minggu depan. Bahkan meskipun dia tidak mau menemui saya, saya tetap harus menemuinya, harus bertemu langsung meminta maaf.
Mungkin karena seharian mengusahakan sesuatu dan tidak ada hasilnya, esok paginya saya merasa segan sekali bangun dari tidur. Padahal hari itu hari senin, sudah pasti pekerjaan sedang menumpuk. Dan bukan saya bila malas masuk kantor. Tapi hari itu, saya enggan sekali bangkit dari tidur. Lalu saya putuskan untuk tidak masuk kantor. Dan pastinya, kembali lagi ke rumah itu.
Saya tahu, siang itu, orang yang saya cari pasti tidak ada di rumah. Pasti sedang kerja. Mungkin hitungannya sedikit nekat karena saya ke sana memang bukan bermaksud menemuinya, tapi menemui ibunya. Berharap bisa bertemu dan sedikit berbincang2, mencoba merebut hatinya sedikit saja.
Jadi siang itu, saya datang lagi ke sana. Mengetuk pintu untuk ke empat kalinya. Dalam benak, saya teringat mantranya Ahmad Fuadi, "man jadda wa jadda". "Siapa bersungguh-sungguh dia akan mendapatkan." Jadi kali itu saya sudah persiapkan mental paling baja, menebalkan muka dengan kepercayaan diri. Entah apa dan bagaimana sambutannya, saya merasa harus mencoba menemui ibunya.
Tapi mengetuk pintu berkali-kali dan melempar salam berkali-kali, pintu pagarnya tetap tertutup. Tak ada satupun yang keluar dari rumah. Tapi pintu di dalam rumah terbuka, mobilpun ketiganya ada. Pasti penghuni rumahnya ada di dalam. Rasanya sudah tidak enak hati sekali berkali2 datang ke sana mengetuk pintu dan tak ada yang keluar menyambut tamu tak diundang ini. Untung saja ada tetangga depan rumahnya yang bisa saya ajak bicara. Sekedar bertanya apa ada orang di dalam rumah itu. Dan syukurlah si tetangga dengan ramah mau menjawab pertanyaan2 saya. Mereka juga menyuruh saya mengetuk pintu pagar dengan keras dan memberi tahu bahwa orang yang saya cari sedang pergi ke luar kota.
Berkali-kali mengetuk pintu, akhirnya ada kepala juga yang muncul dari atas pagar rumah itu. Saya sudah hafal dengan wajah itu. Wajah abangnya, karena sering buka FB dan melihat2 foto keluarganya. Sambutan si abang ini tidak terlalu welcome. Mungkin heran juga ada orang yang baru dia lihat. Mungkin juga khawatir apa saya cuma sekedar mau minta sumbangan. Makanya kami berbicara dengan batas pagar. Saya sampai harus mendongak ke atas karena pagarnya cukup tinggi. Dari si abang ini saya baru tahu kalau orang yang saya cari sedang pergi ke luar negeri, saya bisa langsung tebak, "ke cina?" Karena memang dia pernah disuruh bosnya menyiapkan paspor dan segala keperluan untuk terbang ke cina. Dari si abang juga saya baru tahu kalau orang yang saya cari ini tidak mengganti no hp nya. Jadi mungkin karena berada di sana, jadi no HPnya tidak ada satupun yang aktif. Berkomunikasi dengan keluarga pun hanya melalui YM. Sore hari dimana saya mengajaknya bertemu tapi dia tidak mau atau tidak bisa, rupanya dia sedang mempersiapkan untuk perjalanannya ke cina karena besoknya dia berangkat. Dan sejak hari itu, komunikasi memang terputus.
Dan setelah bertemu dengan si abang itu, entah apa yang ada di pikiran dan perasaan ini, yang pasti saya merasa sedikit lega. Rasa sesal dan kehilangan tetap ada, tapi tidak separah kemarin.
Dan episode kali ini, cukup sampai disini. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, kita ga akan pernah tahu. Entah permohonan maaf ini diterima atau semua sudah terlambat.
tapi saya ingat dengan kata-kata itu, siapa bersungguh-sungguh dia akan mendapatkan. Semoga kata-kata itu benar adanya :)

0 komentar:
Posting Komentar