Rabu, 04 Juli 2012

Hati-hati bermain hati,, petuah orang tua yg masih berlaku..


Benar sekali petuah orang tua, hati-hati bermain hati. Segalanya awalnya hanya urusan pandangan mata, tapi menjalar hingga ke hati, menyentuh satu sudut yang bila sudah tertulis satu nama, maka selanjutnya terjebak dalam gelombang nama itu di hati.

Saya sebenarnya malam itu tidak pernah bermaksud bermain hati sama sekali. Akhir Agustus 2009 lalu, setelah buka bersama dengan teman2 kantor, sebenarnya saya bermaksud menumpang dengan seorang teman perempuan. Karena lokasinya yang tidak dilewati oleh kendaraan umum yang bisa saya tumpangi, jadi saya harus menumpang kendaraan dengan teman. Malam itu, sejujurnya saya sedang galau berat. Ada seseorang yang baru seminggu belakangan itu, mengetuk pintu, menyapa saya yang rasanya masih belum siap diajak berpikir tentang pernikahan. Saya sedang dalam satu kondisi tidak nyaman karena harus menjawab pertanyaan yang saya tidak suka harus menjawab kedua pilihan yang ada. Bilang ya, tidak siap dan merasa tidak ada rasa. Bilang tidak, ah rasanya saya benci sekali harus menolak seseorang. Maka malam itu, mungkin karena galau parah, saat mau menumpang dengan satu teman, lalu saya berubah pikiran. "Nggak jadi deh mba, aku bareng mba nani aja." Tapi setelah bersiap2 mau menumpang motor teman itu, ada satu teman laki-laki yang bertanya saya pulang ke arah mana. Mungkin kelihatannya saya bingung sekali karena dari tadi terus bertanya kita lewat mana, nanti saya turun dimana, naik apa. Dan setelah berbincang2 sedikit dan tahu kita punya arah yang sama, saya berubah pikiran lagi. "mba, aku bareng dia aja deh."

Jadilah malam itu, saya duduk di belakan jok motor teman kantor yang sebenarnya sudah hampir lima bulan bekerja di lantai yang sama dengan saya. Tapi rasanya baru kali itu saya ngobrol sama dia. Saya masih ingat, dia yang pertama kali angkat bicara. "Loe anak ke berapa nit?" sebuah pertanyaan yang tidak terlalu familiar buat saya saat pertama kali berbicara dengan orang baru. Dari situlah kita ngobrol sampe terminal rawamangun, tempat terakhir tumpangannya malam itu. Kalau mau jujur, saya merasa nyaman dengannya sejak awal itu. Mungkin karena suaranya yang tidak keras, mungkin karena cara dia bawa motor yang saat itu sih pelan, mungkin juga karena ada topik yang membuat kita tidak kehabisan pembicaraan alias lagi ngegosipin orang, mungkin karena kita seumuran dan seangkatan, atau mungkin karena alasan lain yang tidak kita tahu. Karena itu, satu malam itu menjadi sebuah pembuka lembaran cerita hati buat saya juga dia karena esoknya juga esok2nya lagi, secara kebetulan kita bertemu lagi, membuat saya kembali duduk di jok motornya dan mobilnya.

Terkadang manusia memang pintar sekali ya. Pintar berargumen dengan pembenarannya sendiri. Dan begitulah yang saya rasa. Saya sebenarnya sejak memutuskan untuk berhijab saat kuliah, berpikir tentang satu hal bahwa dalam kamus hidup saya tidak ada istilah pacaran lagi. Sebuah kebaikan haruslah dijemput dengan kebaikan. Maka niat yang baik untuk menyempurnakan separuh iman harus dilakukan dengan cara yang benar. Tapi seiring perjalanan waktu, kesibukan dan keasyikan, saya terpikirkan sebuah realitas baru. Lalu bagaimana saya akan menikah kalau tidak dekat dengan seorang teman laki-laki. Pertanyaan yang kemudian diamini oleh kenyataan, saya tidak mungkin mengikuti teman2 akhwat saya. Saya merasa rasanya tidak mungkin saya taarufan dengan ikhwan. Karena saya sendiri bukan akhwat dan saya tidak bisa membuka diri untuk sesuatu yang sakral dengan orang yang baru saya kenal. Jadilah semuanya pembenaran bahwa saya harus melewati tahapan ini sebelum menikah.

Dan merayakan rasa sebelum sah di depan penghulu, ada satu akibat yang harus ditanggung sendiri oleh si pemain hati. Ketika rasa itu harus terhenti, maka menangis tersedu2 bahkan tidak bisa menghapus kesedihan. Saat di hati sudah ada rasa memiliki, maka ketika mas gagah itu pergi (pinjam istilah Mba Helvi TR) kita begitu terpukul karena kehilangan. Padahal sebenarnya kita tidak pernah memilikinya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © Ladyspiliang Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger